Rabu, 16 Juni 2010

makalah dorongan mencari rezeki yang halal

BAB I.
PENDAHULUAN
Allah telah mengatur segala sesuatu termasuk rizki manusia satu dengan yang lainnya. Tak bisa dielakkan lagi, kita hidup di dunia memerlukan segala sesuatu termasuk harta. Mencari rizki merupakan usaha dalam rangka memenuhi kebutuhan, dalam pemenuhan kebutuhannya tentu saja dengan cara usaha dengan berbagai cara. Tetapi perlu diingat, sebagai seorang muslim dalam usaha mencari rizki harus dengan cara yang benar, dalam arti dihalalkan hukum Islam baik prosesnya maupun hasilnya.
Bekerja dan berusaha dalam kehidupan duniawi merupakan bagian penting dari kehidupan seseorang dalam mempraktekkan Islam, karena Islam sendiri tidak menganjurkan hidup hanya semata-mata hanya untuk beribadah dan berorientasi pada akhirat saja, namun Islam menghendaki terjadi keseimbangan antara kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrawi.
Islam telah mengajarkan tentang bagaimana cara mencari rizki yang halal lagi, tetapi tidak semua orang dapat mengetahui dan memahami tentang hal itu. Maka berikut ini kami bahas lebih lanjut tentang bagaimanakah tata aturan Islam bagi seorang muslim dalam mencari rizki yang halal lagi baik.








BAB II.
Motivasi Mencari Rezki yang Halal
A.    Hadist Tentang Giat Bekerja
عن حَكِيْمِ بْنِ حَزَّامٍ رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: اليَدُ العُلْيَا  خَيْرٌ مِنَ اليَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ، وَخَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْر غِنَى، وَمنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللهُ (أخرجه البخاري ومسلم)
Artinya: Hakim ibn Hazzam ra. Berkata, Nabi saw. Bersabda: “Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah, dan mulailah dari orang yang menjadi tanggung jawabmu. Sebaik-baik shadaqah adalah  dari kekayaan (yang berlebih). Barang siapa menjaga kehormatan dirinya (tidak meminta-minta), maka Allah akan menjaga kehormatan dirinya, dan barang siapa yang merasa dirinya cukup, maka Allah akan mencukupkannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
1.Arti Kosakata
2.Penjelasan
Hadits pertama menunjukkan bahwa umat Islam harus bekerja keras, dan tidak menjadi peminta-minta. Bekerja dengan tangan sendiri jauh lebih baik daripada mengharapkan belas kasihan orang lain
Dalam hadits lain dinyatakan:
عَنْ أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعتُ رَسولَ اللهَ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: لأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ فَيَحْطُبَ عَلََى ظَهْرِهِ فَيَتَصَدَّقَ بِهِ وَيَسْتَغْنِيَ بِهِ مِنَ النََاسِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْألَ رَجُلا أَعْطَاهُ أوْ مَنَعَهُ ذلِكِ، فَإنَّ اليَدَ العُلْيَا أَفْضَلُ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى وَابْدَأْ  بِمَنْ تَعُوْلُ (متفق عليه)
Artinya: “Dari Abu Hurairah beliau berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: jika salah seorang  di antara kamu berangkat pada waktu pagi untuk mencari kayu bakar, lalu ia  memikulnya di atas pundaknya kemudian ia bersedekah dengannya dan tidak mengharapkan  permberian dari orang lain, makaitu lebih baik daripada meminta-minta Kepada orang lain, baik orang lain itu menmberi atau tidak. Sebab tangan yang berada di atas lebih mulia daripada tangan yang berada di bawah. Dan mulailah dengan memberi nafkah atau mendidik orang yang berada di bawah tanggung jawabmu terlebih dahulu.” (HR Muttafaq ‘alaih)
Oleh karena memberi lebih utama/baik daripada meminta, maka setiap Muslim harus selalu bekerja keras. Etos kerja yang tinggi dalam mencari rizki yang halal merupakan kunci kemandirian dan tidak adanya ketergantungan kepada orang lain.
Dalam Islam bekerja (tidak menganggur) sebagai tukang kayu bakar jauh lebih terhormat dan bermartabat daripada menjadi peminta-minta di pinggir jalan.
Rizki yang halal tidak hanya membawa berkah,  tetapi juga dapat menjadi penentu diterimanya do’a. Allah tidak akan menerima doa orang yang makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya hasil dari usaha yang tidak halal.
Karena itu, dalam hadits lain, Nabi bersabda: takutlah siksa api neraka, meskipun hanya disebabkan oleh (makan) sebiji kurma (yang diperoleh dari hasil yang tidak halal).
Dalam Islam tidak ada prinsip bahwa “Mencari yang haram saja susah, apalagi yang  halal”. Sebaliknya, Islam menyatakan bahwa rizki Allah itu tidak terbatas, bumi Allah itu luas. Maka dari itu, umat Islam harus tidak malas dalam mencari rizki
Motivasi utama dalam mencari rizki yang halal adalah untuk memunuhi kebutuhan sehari-hari supaya tugas manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.
Rizki halal harus diperoleh dengan cara yang halal dan digunakan secara halal. Rezki yang halal dalam membentuk kepribadian baik seseorang. Rizki yang halal juga menjadi penyebab diterimanya doa.
Pendidikan Islam hendaknya mampu menanamkan rasa disiplin yang kuat sehingga menjadi pekerja keras yang cerdas dan ikhlas.
Di antara nilai-nilai edukatif yang dapat dipetik dari  hadits-hadits tersebut adalah: disiplin, etos kerja tinggi, jujur, dan mandiri, tidak menggantungkan nasibnya kepada orang lain.
Sikap mental dan nilai tersebut harus ditanamkan sejak dini, sehingga anak-anak terbiasa mandiri, terampil, dan mengoptimalkan segala daya usahanya, supaya tidak menjadi peminta-minta.


 

B.     Hadist Tentang Makanan yang Baik
عَنِ المِقْدَامِ رَضِيَ اللهُ عنه  عَنِ النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلم قال: ”مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلامُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ“ (رواه  مسلم وأصحاب السنن)
Artinya: “Dari al-Miqdam ra, Nabi saw bersabda: “Tidak seorang pun yang makan lebih baik daripada makan hasil hasil usahanya sendiri. Sungguh Nabi Dawud as makan dari hasil usahanya sendiri” (HR. Muslim dan Ashhab al-Sunan)
1.Arti Kosakata
2.Penjelasan

C.    Hadist tentang Mencari Rezki yang Halal
عن أبي هٌرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنه  قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إنَّ اللهَ تعالى طَيِّبٌ لا يَقْبَلُ إلا طَيِّبًا، وَإنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ به المُرْسَلِيْنَ، فَقالَ تَعَالَى: يا أيُّها الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَيِّبَاتِ وَاعْمَلُوْا صَالِحًا. وقالَ تَعَالَى: يَا أيُّهَا الذِيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ. ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسَهُ حَرَامٌ وَغَذَي بِالْحَرَامِ فَأنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ  (روه مسلم)
Artinya: “Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Mahabaik, dan tidak menerima kecuali yang baik. Allah memerintahkan orang-orang Mukmin sebagaimana yang Ia perintahkan kepada para Rasul. Maka Allah berfirman: “Wahai sekalian Rasul, makanlah dari yang  baik dan beramallah yang baik. Dia juga berfirman: Hai orang-orang beriman, makanlah dari segala yang baik-baik yang telah direzkikan kepadamu.” Kemudian ia menyebutkan  seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, yang kusut rambutnya lagi berdebu mukanya, sambil menengadahkan tangannya ke langit (berdo’a): Hai Tuhanmu, hai Tuhanku! Padahal makanannya haramnya dan mulutnya disuapi dengan yang haram. Maka bagaimanakah akan dikabulkan doanya (HR. Muslim)
1.Arti Kosakata
2.Penjelasan


BAB III.
KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar